Loading...
Menu
Ebooks   ➡  Fiction  ➡  Nonfiction  ➡  Religion and Spirituality  ➡  Fantasy  ➡  Historical  ➡  Islam / History

Kisah Hikayat Siti Maryam (Mary) Ibunda Nabi Isa AS

Kisah Hikayat Siti Maryam (Mary) Ibunda Nabi Isa AS

By

Muhammad Vandestra

2017

Content

Prakata

Kisah Kehidupan Siti Maryam

Wafatnya Siti Maryam Ibunda Nabi Isa AS

Referensi

Author Bio

Prakata[*      *]

The Story of Virgin Mary (Maryam) Mother of Prophet Jesus (Isa) In Indonesian Languange

Dikisahkan bahwa Siti Maryam adalah wanita terbaik, mulia lagi suci sepanjang masa. Dalam Al-Quran bahkan disebutkan bahwa Maryam adalah seorang wanita yang begitu suci dan ia adalah wanita pilihan Allah.

“Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita yang ada di dunia. (QS Ali Imran, 42).”

Apa yang membuat Siti Maryam ibunda Nabi Isa AS dikatakan sebagai wanita paling istimewa, mulia dan suci? Dalam Al-Quran dan Hadist disebutkan bahwa Maryam adalah sosok wanita yang begitu mulia. Ia selalu menjaga dirinya dari segala perbuatan buruk. Ia juga menjaga kesucian lahiriah maupun batiniahnya. Maryam, yang merupakan putri dari pasangan Imran seorang tokoh Ulama Bani Israel dan seorang perempuan yang tak lain adalah saudara ipar Nabi Zakaria AS (Hannah). Siti Maryam adalah seorang wanita yang begitu sabar, tulus dan tawakal dalam beribadah kepada Allah SWT.

Sebelum kelahiran Siti Maryam, Imran dan istri telah lama menikah tapi tak kunjung mendapatkan buah hati. Lantas, siang malam mereka berdoa dan meminta kepada sang pencipta agar diberikan buah hati. Mereka meminta seorang anak laki-laki dan bernazar bahwa mereka akan menyerahkan putranya ke Baitul Maqdis agar ia bisa mengabdikan dirinya di sana.

“(Ingatlah) ketika istri Imran berkata: Ya, Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba shalih dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu, terimalah (nazar) itu padaku. Sesungguhnya, Engkau Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Ali Imran, 35).

Allah pun memberikan janin di perut istri Imran. Baik Imran maupun sang istri begitu bahagia. Sayang, belum sempat melihat buah hatinya lahir ke dunia, Imran meninggal dunia. Tinggallah istri Imran yang telah menjadi janda sendiri. Ia pun akhirnya melahirkan. Namun janin yang lahir bukan bayi laki-laki seperti yang menjadi doa Imran selama ini. Bayi tersebut adalah bayi perempuan. Apapun dan bagaimanapun bayinya, Hannah tetap menerimanya dengan lapang dan merawatnya dengan sangat baik di jalan Allah.

Suatu malam, Hannah mengantarkan bayinya tersebut ke Baitul Maqdis dan menyerahkannya kepada pendeta di sana. Ia mengatakan bahwa ia memenuhi janjinya untuk menyerahkan anaknya kepada Allah agar ia menjadi hamba yang mengabdikan diri serta berdakwah di jalan Allah. Di rumah suci (Baitul Maqdis) Maryam dirawat oleh sang paman yang tak lain adalah Nabi Zakaria AS. Nabi Zakaria merawatnya dengan sangat baik seperti anaknya sendiri. Dari hari ke hari, Maryam tumbuh menjadi wanita yang cantik, lembut, berbudi pekerti baik dan mulia.

 

 

Kisah Kehidupan Siti Maryam

Alhamdulillah segala puji bagi robb pencipta alam dunia dan akhirat, yang berkuasa atas segala sesuatu yang IA SWT kehendaki seperti kisah teladan Siti Maryam Ibunda Nabi Isa A.s yang lahir atas kehendak allah SWT tanpa ayah. Inilah kisah wanita soleha Siti Maryam (Mary) Ibunda Nabi Isa AS yang wajib kita teladani.

Ali Imran merupakan nama seorang laki-laki yang keluarganya telah terpilih menjadi keluarga yang diberkati oleh Allah. Allah memilih keluarga Ali Imran adalah karena dari pasangan suami istri ini lahir salah seorang wanita yang mulia dalam sejarah yaitu Maryam.

[Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (3:33)
__]
Semasa Maryam masih di dalam kandungan, istri Imran yang bernama Hannah bernazar akan “menyerahkan” anaknya itu kepada Allah sebagai Pemelihara agar kelak menjadi hamba yang soleh yang selalu berkhidmat di Baitul Maqdis (Yerussalem). Hal ini tertulis di dalam ayat ke-35 yang terjemahannya berbunyi:

[, ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (3:35)
__]
Hari-hari terus berjalan. Takdir Allah tak dapat dielakkan. Ketika masa kelahiran anaknya sudah dekat, ’Imran, suami Hannah, wafat. Hannah kehilangan suami yang mencintainya. Tidak ada yang meringankannya kecuali saudara perempuannya, yaitu Isya`, dan suami Isya`, Nabi Zakariya, keturunan Nabi Sulaiman bin Daud as. Untuk mencari nafkah, Nabi Zakariya berprofesi sebagai tukang kayu.

Ketika tahu anak yang dilahirkan itu adalah perempuan, istri Imran menamai anaknya Maryam, dan istri Imran meminta kepada Allah agar anaknya itu dipelihara oleh Allah dan melindunginya dari syetan.

[Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk.” (3:36)
__]
Hannah kemudian mengambil Maryam, membungkusnya dengan kain, dan pergilah ia bersama anaknya dari Nazariat ke Baitul Maqdis untuk melaksanakan nadzarnya. Dia menemui para pendeta yang ada di sana, yaitu putra-putra Harun, yang jumlahnya tiga puluh orang. Adapun Nabi Zakariya adalah kepala Baitul Maqdis.

Hannah berkata kepada mereka, “Ambilah anak yang kunadzarkan ini!”

Maka, dengan berebutan, pada pendeta itu menawarkan dirinya untuk memungut anak itu, termasuk Nabi Zakariya. Masing-masing dari mereka ingin mengambil dan memelihara Maryam, sebab bayi itu adalah anak ‘Imran, seorang yang terkenal shaleh.

Akhirnya semua pendeta itu setuju untuk mengundi siapa di antara mereka yang paling berhak atas anak itu. Pergilah mereka ke Sungai Urdun. Masing-masing mereka melemparkan pena-pena yang biasa mereka gunakan untuk menuliskan ayat-ayat Taurat ke dalam air sungai.

Allah SWT berfirman:

Ali ‘Imran: 44

[44. Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan pena-pena mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa.
__]
Ternyata, air sungai menenggelamkan semua pena pendeta itu, kecuali pena Zakariya yang tetap terapung-apung di permukaan air. Dengan demikan, berarti Zakariyalah yang berhak memelihara Maryam.

Allah SWT berfirman:

Ali ‘Imran: 37

[37. Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya.
__]
Maryam tumbuh menjadi wanita yang kerjanya setiap hari hanya beribadah dengan berkhidmat kepada Allah di Rumah-Nya di Baitul Maqdis. Zakaria adalah “kuncen” Rumah Allah tersebut. Di sinilah Allah menurunkan Rahmat-Nya kepada Maryam. Setiap kali Zakaria menemui Maryam di mihrab, dia mendapati berbagai makanan yang lezat berada di samping Maryam. Dari manakah datangnya makanan itu? Setahu dia Maryam tidak pernah membawa makanan ke Rumah-Nya, Zakarilah yang selalu mengantarkan makanan kepada Maryam. Maryam menjawab bahwa makanan itu berasal langsung dari Allah, mungkin diturunkan dari langit atau melalui perantara malaikat-Nya.

Lanjutan ayat 37 di atas:

[Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. (3:37)
__]
Allah telah memilih Maryam sebagai wanita solehah yang dilebihkan dari wanita lain di dunia. [Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu). (3:42)
__]
Sebagai bentuk ketaatan, Allah memerintahkan Maryam agar selalu menyembah Allah, selalu sujud dan rukuk kepada Allah bersama orang-orang lainnya lainnya yang menyembah Allah.

[Hai Maryam, ta’atlah kepada Tuhanmu, sujud dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’. (3:43)
__]
Sampai suatu hari Allah akan memberikan suatu keajaiban yang tidak disangka-sangka bagi Maryam. Allah mengabarkan bahwa Maryam akan mengandung seorang anak lelaki yang namanya sudah ditentukan oleh Allah yaitu Isa Al Masih (atau Al Masih isa putera Maryam).

[, ketika Malaikat berkata: “Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih ‘Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), (3:45)
__]
Ketika masih bayi Isa kelak memiliki mukjizat yaitu sudah bisa berbicara dengan manusia:

[dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia adalah termasuk orang-orang yang saleh.” (3:46)
__]
Maryam tentu saja merasa kaget, bagaiman mungkin dia akan mengandung, padahal dia belum menikah, dan dia belum pernah disentuh atau berhubungan dengan lelaki manapun. Tentu saja, karena Maryam kerjanya setiap hari hanyalah berkhidmat kepada Allah di Baitul Maqdis. Dia jarang keluar dari Rumah-Nya, apalagi bergaul dengan lelaki. Allah menjawab seperti kasus Nabi Zakaria di atas, bahwa hal itu mudah saja bagi-nya, kun fayakun, maka apapunyang Dia kehendaki pasti akan terjadi. Dialah Allah SWT yang Maha Pencipta.

[Maryam berkata: “Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun.” Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah”, lalu jadilah dia. (3:47)
__]
Dan Allah akan mengajarkan kepadanya Al Kitab, Hikmah, Taurat dan Injil. (3:48)

Allah mengutus Nabi Isa kepada Bani Israil. Kepada Bani Israil Nabi Isa menjelaskan tanda-tanda kenabiannya yaitu mukjizat menghidupkan burung dari tanah liat, menghidupkan orang mati, menyembuhkan orang buta dan berpenyakit kusta.

Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka): [“Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mu’jizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman. (3:49)
__]
Nabi Isa berkata kepada kaumnya bahwa dia membenarkan kitab-itab terdahulu yang telah diturunkan kepada Nabi Musa (Taurat) dan Nabi Daud (Zabur), lalu menghalalkan apa yang dahulu diharamkan.

[Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mu’jizat) daripada Tuhanmu. Karena itu bertakwalah kepada Allah dan ta’atlah kepadaku. (3:50)
__]
Lalu Nabi Isa meminta kaumnya agar menyembah Allah SWT sebagai jalan yang benar.

Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus”. (3:51)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Wafatnya Siti Maryam Ibunda Nabi Isa AS

Diriwayatkan dari Wahab bin Munabbih dari neneknya idris ia berkata: “Telah saya dapatkan disebahagiaan kitab bahwa Nabi Isa as berkata kepada ibunya”: “Sesungguhnya kampung atau dunia ini adalah kampung yang akan punah dan kampung yang akan hilang dan sesungguhnya akhirat adalah kampung yang kekal. Maka marilah duhai ibuku (bersama saya).”

Maka keduanya berangkat ke gunung Libanon dan mereka berpuasa pada siang harinya dan berdiri untuk mendirikan sholat pada malam hari. Keduanya hanya makan dari daun pohon-pohonan serta minum dari air hujan. Mereka tinggal cukup lama di tempat itu. Pada suatu hari Nabi Isa turun dari gunung dan pergi ke jurang untuk mengambil rumput yang akan dimakan mereka saat berbuka. Ketika beliau turun, datanglah Malaikat Izrail  (kepada ibunya) seraya bersalam: “Assalamu’alaiki ya Maryam yang patuh berpuasa dan beribadah di malam hari“.

Maryam berkata: “Siapa engkau, sungguh kulitku, badanku gentar karena takut akan suaramu, terasa hilang pula akalku dari wibawamu“.

Kata Malaikat: “Saya adalah Malaikat yang tidak kasihan kepada anak kecil karena kecilnya, dan tidak kenal memuliakan orang besar atau orang tua karena kebesarannya atau tuanya dan saya adalah yang mencabut ruh“.

Kata Maryam: “Hai Malaikat Maut, untuk berkunjungkah engkau datang atau untuk mencabut ruh?”

Kata Malaikat Maut: “Bersiap-siaplah engkau untuk mati!”

Kata Maryam: “Apakah engkau tidak memberi izin kepadaku supaya datang dahulu anak kasih sayangku, yang menjadi buah hatiku, buah indah mataku dan menjadi penawar harum risau hatiku?”

Kata Malaikat: “Saya tidak diperintah untuk itu, dan saya hanya hamba yang diperintahDan demi Allah saya tidak mampu mencabut jiwa seekor nyamukpun, maka saya sungguh telah dipperintah oleh Tuhan agar supaya saya tidak menyia-nyiakan selangkahpun sehingga saya mencabut ruhmu ditempat ini“.

Kata Maryam: “Hai Malaikat pencabut jiwa, engkau telah menerima perintah Allah, maka laksanakanlah perintah itu“.

Maka Malaikat mendekatinya dan mencabut ruhnya.

Nabi Isa datang terlambat. Ketika ia datang membawa rumput dan kubis dari jurang, ia melihat ibunya tengah berdiam di tempat sholatnya, dia mengira ibunya sedang menunaikan sholat. Kemudian dia meletakkan rumput dan menghadap kiblat dan terus berdiri sampai malam hari.

Kemudian ia melihat ibunua lagi dan memanggilnya dengan suara lirih: “Assalamu’alaiki, wahai ibu sungguh telah datang waktu malam dan telah berbuka pula orang-orang yang berpuasa dan telah berdiri orang-orang yang beribadah, mengapa engkau tidak berdiri beribadah kepada Tuhan Yang Maha Pengasih?”

Maka Nabi Isapun berkata: “Sungguh didalam tidur itu terdapat kelezatan“.

Nabi Isa masih menunggu ibunya untuk berbuka bersamanya, dan sesekali ia menyapa: “Assalamu’alaiki yaa ummaahu!”.

Maka iapun kembali dan menghadap tempat ibadahnya sampai terbit fajar. Lalu ia meletakkan pipinya pada pipi ibunya dan meletakkan mulutnya pada mulut ibunya sambil menyerukan dengan menangis keras sekali: “Assalamu’alaiki yaa ummuhu, sungguh malam telah berlalu dan datanglah siang. Ini adalah waktu menunaikan kewajiban pada Tuhan Yang Maha Esa“.

Maka menangislah para malaikat di langit dan demikian juga para jin yang berada disekitarnya lagi pula bergoncanglah gunung di bawahnya.

Kemudian Allah memberikan wahyu kepada para Malaikat: “Apakah yang membuat kamu semua menangis?”

Allah memberi wahyu lagi: “Sungguh Aku Maha Mengetahui dan Aku Maha Penyayang“.

Tiba-tiba waktu itu ada suara menyeru: “Hai Isa, angkatlah kepalamu, sesungguhnya ibumu telah meninggal dunia dan Allah telah melipat gandakan pahalamu“.

Maka Isa mengangkat kepalanya sambil menangis dan berkata: “Siapakah temanku dikala sunyi dan waktu aku sendirian? dan siapakah yang aku ajak bercengkrama dirantauanku serta siapa pula yang membantu aku dalam ibadahku?”

Allah memberi wahyu kepada gunung: “Hai gunung, nasihatilah Ruhku (Isa)

Kata gunung: “Hai Ruh Allah (Isa), apakah arti kesusahanmu itu, ataukah engkau menghendaki Allah sebagai pendampingmu yang menggembirakan?

Kemudian Isa turun dari gunung itu dan pergi ke sebuah desa. Dari beberapa desa tempat tinggal Bani Israil, maka Isa berkata: “Assalamu’alaikum ya Banii Israil“.

Mereka berkata: “Siapakah engkau, hai hamba Allah?”, sungguh kebagusan wajahmu telah menyinari rumah-rumah kami“.

Kata Isa as: “Saya adalah Ruh Allah (Isa), ibuku telah meninggal dunia dalam rantauan, maka tolonglah saya untuk memandikan, mengkafani dan memakamkannya“.

Kata mereka: “Hai Ruh Allah, sungguh di gunung itu banyak ular besar dan ular-ular lainnya yang belum pernah ditempuh atau dilewati oleh para ayah kami dan nenek kami sejak tiga ratus tahun“.

Maka Isa kembali ke gunung, lalu ia dapatkan dua orang pemuda yang yang bagus keduanya. Kemudian Nabi Isa memberi salam dan keduanyapun membalas salamnya Nabi Isa.

Kata Nabi Isa: “Sungguh ibuku telah meninggal dunia dalam rantauan di gunung ini, maka tolonglah aku untuk mempersiapkan pemakamannya“.

Kata salah seorang dari keduanya: “Ini adalah Malaikat Mikail dan saya adalah Malaikat Jibril dan ini adalah obat tubuh dan kain kafan dari Tuhanmu“.

Dan para bidadari jelita turun sekarang ini dari surga untuk memandikan dan mengkafaninya.

Maka Jibril menggali kuburnya di puncak gunung itu sesudah mereka menyolatinya dan mengiringkan jenazahnya.

Kemudian Nabi Isa berdoa: “Ya Allah sungguh Engkau mengetahui tempatku dan mendengar perkataanku dan tidak sedikitpun urusanku yang tersembunyi bagi Engkau, maka ibuku telah meninggal dunia sedang saya tidak menyaksikannya diwaktu wafatnya. Maka izinkanlah dia berkata kepada saya“.

Maka Allah ta’ala memberikan wahyu kepada Isa: “Sungguh Aku telah memberikan izin kepadanya“.

Isa pergi ke kuburan ibunya dan berdiri diatas kuburan itu seraya menyeru kepada ibunya dengan suara yang mengandung risau: “Assalamu’alaiki duhai ibu“.

Ibunya menjawab dari dalam kuburnya: “Hai anakku, kekasihku dan buah mataku!”
Kata Isa: “Wahai ibu, bagaimana engkau dapatkan tempat pembaringanmu kepada Tuhanmu?”
Kata ibunya: “Tempat pembaringanku adalah sebaik-baik tempat pembaringan, dan tempat kembaliku adalah sebaik-baik tempat kembali, sedang saya saya datang menghadap Tuhanku, saya tahu bahwa Dia telah menerimaku dengan rela, puas dan tidak marah“.
Kata Isa as: “Duhai ibu, bagaimana engkau dapatkan rasa sakitnya mati?
Kata ibunya: “Demi Allah yang telah mengutusmu sebagai nabi dengan sebenar-benarnya, belum hilang rasa pedihnya mati dari tenggorokanku dan demikian juga wibawa yang menakutkan dari Malaikat Izrail belum hilang dari pandangan mataku; ‘alaikas salam hai kasih sayangku sampai hari kiamat“.

Subhanallah, begitu mulianya Maryam, ia wafat dalam keadaan khusnul khatimah dan mendapatkan tempat yang sebaik-baiknya tempat dialam kuburnya. Namun, ia tetap masih merasakan rasa sakitnya sakaratul maut. Semoga kita selalu menjaga semua amal ibadah kita untuk bekal di akhirat kelak.

 

 

 

Referensi

Watt, W. Montgomery (1973). The Formative Period of Islamic Thought. University Press Edinburgh. ISBN 0-85224-245-X.

Weiss, Bernard G. (2002). Studies in Islamic Legal Theory. Boston: Brill Academic publishers. ISBN 90-04-12066-1.

Compas, Bruce & Gotlib, Ian. (2002). Introduction to Clinical Psychology. New York, NY : McGraw-Hill Higher Education. ISBN 0-07-012491-4

Shaykh Adil Al-Haqqani; Shaykh Hisham Kabbani (2002). The Path to Spiritual Excellence. ISCA. pp. 65–66. ISBN 978-1-930409-18-7.

Ramadan, Tariq (2007). In the Footsteps of the Prophet: Lessons from the Life of Muhammad. Oxford University Press. ISBN 0-19-530880-8.

[_Schumann, Olaf H. (2002). Jesus the Messiah in Muslim Thought. Dehli: ISPCK/HIM. p. 13. ISBN 8172145225. _]

Khalidi, Tarif (2001). The Muslim Jesus: Sayings and Stories in Islamic Literature. Cambridge, Mass., and London: Harvard University Press. pp. 51–94. ISBN 0674004779.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Author Bio

Muhammad Vandestra has been a columnist, health writer, soil scientist, magazine editor, web designer & kendo instructor. A writer by day and reader by night, he write fiction and non-fiction book for adult and children. He lives in West Jakarta City.

Muhammad Vandestra merupakan seorang kolumnis, editor majalah, perancang web & instruktur kendo. Seorang penulis pada siang hari dan pembaca di malam hari, Ia menulis buku fiksi dan non-fiksi untuk anak-anak dan dewasa. Dia tinggal di Kota Jakarta Barat.

Email: [email protected]

Blog: www.vandestra.blogspot.com


Kisah Hikayat Siti Maryam (Mary) Ibunda Nabi Isa AS

The Story of Virgin Mary (Maryam) Mother of Prophet Jesus (Isa) In Indonesian Languange Dikisahkan bahwa Siti Maryam adalah wanita terbaik, mulia lagi suci sepanjang masa. Dalam Al-Quran bahkan disebutkan bahwa Maryam adalah seorang wanita yang begitu suci dan ia adalah wanita pilihan Allah. "Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita yang ada di dunia. (QS Ali Imran, 42)." Apa yang membuat Siti Maryam ibunda Nabi Isa AS dikatakan sebagai wanita paling istimewa, mulia dan suci? Dalam Al-Quran dan Hadist disebutkan bahwa Maryam adalah sosok wanita yang begitu mulia. Ia selalu menjaga dirinya dari segala perbuatan buruk. Ia juga menjaga kesucian lahiriah maupun batiniahnya. Maryam, yang merupakan putri dari pasangan Imran seorang tokoh Ulama Bani Israel dan seorang perempuan yang tak lain adalah saudara ipar Nabi Zakaria AS (Hannah). Siti Maryam adalah seorang wanita yang begitu sabar, tulus dan tawakal dalam beribadah kepada Allah SWT. Sebelum kelahiran Siti Maryam, Imran dan istri telah lama menikah tapi tak kunjung mendapatkan buah hati. Lantas, siang malam mereka berdoa dan meminta kepada sang pencipta agar diberikan buah hati. Mereka meminta seorang anak laki-laki dan bernazar bahwa mereka akan menyerahkan putranya ke Baitul Maqdis agar ia bisa mengabdikan dirinya di sana. "(Ingatlah) ketika istri Imran berkata: Ya, Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba shalih dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu, terimalah (nazar) itu padaku. Sesungguhnya, Engkau Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Ali Imran, 35). Allah pun memberikan janin di perut istri Imran. Baik Imran maupun sang istri begitu bahagia. Sayang, belum sempat melihat buah hatinya lahir ke dunia, Imran meninggal dunia. Tinggallah istri Imran yang telah menjadi janda sendiri. Ia pun akhirnya melahirkan. Namun janin yang lahir bukan bayi laki-laki seperti yang menjadi doa Imran selama ini. Bayi tersebut adalah bayi perempuan. Apapun dan bagaimanapun bayinya, Hannah tetap menerimanya dengan lapang dan merawatnya dengan sangat baik di jalan Allah. Suatu malam, Hannah mengantarkan bayinya tersebut ke Baitul Maqdis dan menyerahkannya kepada pendeta di sana. Ia mengatakan bahwa ia memenuhi janjinya untuk menyerahkan anaknya kepada Allah agar ia menjadi hamba yang mengabdikan diri serta berdakwah di jalan Allah. Di rumah suci (Baitul Maqdis) Maryam dirawat oleh sang paman yang tak lain adalah Nabi Zakaria AS. Nabi Zakaria merawatnya dengan sangat baik seperti anaknya sendiri. Dari hari ke hari, Maryam tumbuh menjadi wanita yang cantik, lembut, berbudi pekerti baik dan mulia.

  • ISBN: 9781370072569
  • Author: Dragon Promedia
  • Published: 2017-09-05 22:20:10
  • Words: 2888
Kisah Hikayat Siti Maryam (Mary) Ibunda Nabi Isa AS Kisah Hikayat Siti Maryam (Mary) Ibunda Nabi Isa AS